Thursday, November 1, 2018

Dalil Tahlilan, peringatan 7hr/40hr/100hr, Haul dan 1.000hr




SELAMATAN HARI KE 3, 7, 40, UNTUK ORANG YANG MENINGGAL

1.      Teknis untuk selamatan orang yang meninggal
            Dalam realitas sosial, ditemukan adanya tradisi masyarakat jawa, jika ada keluarga yang meninggal, malam harinya banyak sekali  para tamu yang bersilaturrahim, baik tetangga dekat maupun jauh. Mereka semua ikut bela sungkawa atas segala yang menimpa, sambil mereka semua ikut mendoakan orang yang meninggal dankeluarga yang ditinggalkan.
            Hal tersebut bagi kaum nahdliyyin sampai pada hari ketujuh, sebab disamping bersiap menimpa tamu, sanak keluarga, handai taulan, dan kerabat dekat, mereka mengadakan doa bersama melalui bacaan-bacaan kalimat Thayyibah, seperti bacaan yasin, tahlil, tahmid, istighatsah, dan diakhiri dengan membaca doa yang dikirimkan kepada yang sudah meninggal dunia.
            Sedang persoalan ada dan tidaknya hidangan makanan, bukan hal penting, tapi pemanfaatan pertemuan majlis silaturrahim seperti ini, akan terasa lebih berguna jika diisi dengan berdzikir bersama. Sayang, bagi orang-orang awam yang kebetulan dari keluarga kurang mampu, memandang sajian makanan sebagai suatu keharusan untuk disajikan kepada para tamu, padahal substansi bacaan tahlil dan doa adalah untuk menambah bekal bagi mayit.
            Kemudian, peringatan demi peringatan itu menjadi tradisi yang seakan diharuskan, terutama setelah mencapai 40 hari, 100 hari, setahun (haul), dan 1000 hari. Semua itu berangkat dari keinginan untuk menghibur para keluarga yang ditinggalkan, dan sekaligus ingin mengambil I’tibar bahwa kita juga akan menyusul (mati) dikemudian hari.
            Selanjutnya, dari tradisi seperti itu, muncul persoalan ditengah masyrakat tentang :
   -Bagaimana hakikat yang sebenarnya hukum acara selamatan yang dalam tradisinya ditentukan hari dan jumlahnya seperti itu…….?
   -Dasar apa yang bisa dijadikan sebagai landasan amaliyyahnya….?

2.      hukum selamatan 3, 7, 40, dan 100 hari dan landasan amaliyyahnya

            Adapun hukum mendoakan orang yang sudah meninggal dunia ( dalam wujud doa bersama setelah membaca kalimat thayyibah atau surat yasin ) adalah disunnahkan ( Masnunah / ),  bagitu juga hukum bershadaqah ( dalam wujud selamatanya ) dan bersilaturrahim ( dalam wujud kumpul bersama dirumah duka). Hal ini berdasarkan hadis Nabi SAW sebagai berikut :

عَنْ اَبِى ذَرٍّ نَاسَا مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ يَا رَسُوْل اللهِ ذَهَبَ اَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالْاُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّى وَيُصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَيَتَصَّدَقُوْنَ بِفُضُوْلِ اَمْوَالِهِمْ قَالَ اَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ اِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ . رواه مسلم

Dari Abi Dzarr, ada beberapa sahabat berkata kepada Nabi SAW, Ya Rasulullah, orang orang kaya itu mendapatkan suatu pahala, (padahal) mereka shalat  separti kami, mereka puasa seperti kami, mereka bershadaqoh dengan  kelebihan harta kekayaanya, lalu Nabi SAW menjawab : bukanlah Alloh SWT sudah menyediakan untuk kamu sekalian sesuatu yang dapat kamu sedekahkan….?. Sesungguhnya setiap satu bacaan Tasbih ( yang telah kamu baca ) merupakan sedekah, dan setiap takbir merupakan sedekah dan setiap bacaan tahmid juga merupakan sedekah dan setiap tahlil merupakan sedekah. HR Muslim.
عَنْ عَمْرُو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ اَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْاِسْلاَمُ ؟. قَالَ طِبْتُ الْكَلاَمِ وَاِطْعَامُ الطَّعَامِ ( رواه احمد )
Dari ‘Amr bin ‘Abasah, beliau berkata : aku mendatangi Rasulullah SAW, lalu aku bertanya : Ya Rasulullah, apakah islam itu….?. beliau menjawab : Bertutur kata yang baik dan menyuguhkan suatu makanan. HR Ahmad.
عَنْ بْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُوْل اللهِ اِنَّ اُمِّى تُوُفِّيَتْ اَفَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَاِنَّ لِى مَخْرَفًا فَاُشْهِدُكَ اَنِّى قَدْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا. رواه الترمذى
Dari Ibnu Abbas sesungguhnya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku sudah meninggal dunia, apakah ada manfaatnya jika aku bersedekah untuknya…?. Beliau menjawab Iya, lalu lelaki tersebut berkata aku memiliki sebidang tanah, maka aku persaksikan kepadamu bahwa aku akan mensedekahkan kebun tersebut atas nama ibuku. HR Turmudziy.
            Dengan demikian, maka hukum bershadaqoh yang pahalanya dihadiahkan kepada orang sudah meninggal dunia itu diperbolehkan. Begitu juga hukum peringatan hari ke 3, 7, 40, 100, setahun, 1000 hari, yaitu diperbolehkan, sebagaimana pandangan para ahli Hukum Islam dalam kitab-kitab sebagai berikut :
1). Kitab al-Hawiy, yaitu :

قَالَ طَاوُسْ : اِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ الْاَيَّامِ - اِلَى اَنْ قَالَ –عَنْ عُبَيْدِ ابْنِ عُمَيْرٍ قَالَ : يُفْتَنُ رَجُلاَنِ مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ فَاَمَّاالْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَاَمَّاالْمُنَافِقُ فَيُفْتَنُ اَرْبَعِيْنَ صَحَابًا

Imam Thawus berkata : seorang yang mati akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu sebaiknya mereka ( yang masih hidup ) mengadakan jamuan makan ( sedekah ) untuknya selama hari-hari tersebut…..sampai kata-kata : dari sahabat Ubaid ibnu Umair, dia berkata : Seorang mukmin dan seorang munafik sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi.

2). Kitab al-Hawiy, yaitu :

اَنَّ سُنَّةَ  الْاِطْعَامِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ بَلَغَنِى اَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ اِلَى الآَنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ اَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ اِلَى الآَنَ وَاَنَّهُمْ اَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ اِلَى الصَّدْرِ الْاَوَّلِ 

Kesunatan memberikan sedekah makanan selama 7 (tujuh ) hari merupakan perbuatan yang tetap saja berlaku sampai sekarang ( yaitu masa al-Suyuthiy  abad ke-IX H ) di Makkah dan di Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang dan tradisi tersebut diambil dari ulama’ salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat.

3). Kitab al-Ruh, yaitu :

....اَفْضَلُ مَا يُهْتَدَى اِلَى الْمَيِّتِ الْعِتْقُ وَالصَّدَقَةُ وَالْاِسْتِغْفَرُ لَهُ وَالدُّعَاءُ لَهُ وَالْحَجُّ عَنْهُ وَاَمَّا قِرَاَةُ الْقُرْآءَنِ وَاِهْدَؤُهَا لَهُ تَطُوُّعًا بِغَيْرِ اُجْرَةٍ فَهَذَا يَصِلُ اِلَيْهِ كَمَا يَصِلُ ثَوَابُ الصَّوْمِ وَالْحَجِّ

….Sebaik-baik amal perbuatan yang dihadiahkan kepada mayit adalah memerdekakan budak, bersedekah, istigfar, berdoa dan haji. Sedangkan pahala membaca al-Qur’an secara ikhlas dan pahalanya diberikan kepada mayit, juga akan sampai kepada mayit tersebut, sebaaimana pahalanya puasa dan haji.

4). Kitab Nihayah al-Zain, yaitu :

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ الْمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلاَ يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِى سَبْعَةِ اَيَّامٍ اَوْ اَكْثَرَ اَوْ اَقَلَّ وَتَقْيِيْدُهُ بِبَعْضِ الْأَيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا اَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ اَحْمَدْ دَحْلاَن وَقَدْ جَرَّتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ فِى ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِى سَابِعٍ وَفِى تَمَامِ الْعِشْرِيْنَ وَفِى الْاَرْبَعِيْنَ وَفِى الْمِائَةِ وَبَعْدَ ذَلِكَ يَفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلاً فِى يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا اَفَادَهُ شَيْخُنَا يُوْسُفُ السُّنْبُلاَوَيْنِى....

Dan shodaqah untuk mayit dengan cara syar’i itu diperlukan dan tidak dibatasi harus tujuh hari dari hari-hari kematianya. Sebagaimana Sayid Ahmad Dahlan berfatwa ‘’ telah menjadi kebiasaan manusia shodaqah untuk mayit pada hari ke tiga dari kematian, hari ke tujuh, hari ke dua puluh, hari ke empat puluh, hari ke seratus, dan setelah itu setiap tahun pada hari kematian. Sebagaimana juga didukung oleh Syeh Sunbulawainy.

No comments:

Post a Comment

silahkan komentar secara bijak dan pastinya sesuai pembahasan.