“ HUKUM MENCARI
ILMU ”
"طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ" الحديث
“ Menuntut Ilmu
sangat di fardlu bagi setiap orang muslim laki-laki dan muslim perempuan “
Di atas adalah
Hukum mencari atau bahkan menuntut ilmu terlebih ilmu agama bagi orang-orang
Isalam….
Dan dibawah ini
adalah sedikit tentang tatacara dan adabiyah seorang yang dalam keadaan
menuntut ilmu ,penjelasn ini di ambil dari kitab Ta’limul Muta’alim yang sangat
populer di kalangan pesantren ,umumnya dikalangan persantren yang ada di
Nusantara,
oke kawan langsung aja
kita Bahas aja ya…..
- menerangkan hakekat ilmu, hukum mencari ilmu, dan keutamaannya. ilmu
ialah Sifat yang dimiliki seseorang, maka menjadi jelaslah apa yang terlintas
di dalam pengertiannya. Fiqih adalah: Pengetahuan tentang kelembutan-kelebutan
ilmu. Ujar Abu Hanifah : Fiqih adalah pengetahuan tentang hal-hal yang berguna,
yang berbahaya bagi diri seseorang. Ujarnya lagi : Ilmu itu hanya untuk
diamalkannya, sedang mengamalkan di sini berarti meninggalkan orientasi demi
akhirat. kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini
tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang
menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama
manusia. Ilmu itu sangat penting karena ilmu sebagai perantara
(sarana) untuk bertaqwa. Dengan taqwa inilah manusia menerima kedudukan
terhormat disisi Allah, dan keuntungan yang abadi.
- niat dalam mencari ilmu. Wajib berniat waktu belajar. Sebab niat itu
menjadi pokok dari segala hal. Dalam belajar hendaklah diniati untuk
mensyukuri kenikmatan akal dan badan yang sehat. Belajar jangan diniatkan untuk
mencari pengaruh, kenikmatan dunia ataupun kehormatan di depan sultan dan
penguasai-penguasa lain.
- cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan. Bagi pelajar, dalam
masalah ilmu hendaklah memilih mana yang terbagus dan dibutuhkan dalam
kehidupan agmanya pada waktu itu, lalu yang untuk waktu yang akan
datang. Dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, waro’ dan
juga lebih tua usianya. Tentang memilih teman, hendaklah memilih yang
tekun, waro, bertabiat jujur serta mudah memahami masalah. Menyingkiri orang
pemalas, penganggur, banyak bicara, suka mengacau dan gemar memfitnah.sebaiknya
pelajar mempunyai hati tabah dan sabar dalam belajar kepada sang guru, dalam
mempelajari suatu kitab jangan sampai ditinggalkan sebelum sempurna dipelajari,
dalam satu bidang ilmu jangan sampai berpindah bidang lain sebelum memahaminya
benar-benar, dan juga dalam tempat belajar jangan sampai berpindah kelain
daerah kecuali karena terpaksa. Kalau hal ini di langgar, dapat membuat urusan
jadi kacau balau, hati tidak tenang, waktupun terbuang dan melukai hati sang
guru.
- cara menghormati ilmu dan guru. Seorang pelajar tidak akan
memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika
mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan
gurunya. Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu menghormati pada sang
guru. Ali ra berkata: “Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah
mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan
ataupun tetap menjadi hambanya.” Barang siapa melukai hati sang gurunya,
berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemamfaatannya. diantara adab dalam
mencari ilmu yaitu
- Jangan Duduk Terlalu Dekat Dengan Guru.
- Sikap Selalu Hormat Dan Khidmah.
- Jangan Memilih Ilmu Sendiri.
- Menyingkiri Akhlak Tercela.
- kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur.
pelajar juga harus bersungguh hati dalam belajar serta kontinu (terus-terusan).
pelajar harus dengan kontinyu sanggup dan mengulangi pelajaran yang telah
lewat. Hal itu dilakukan pada awal waktu malam, akhir waktu malam. Sebab waktu
diantara maghrib dan isya, demikian pula waktu sahur puasa adalah membawa
berkah.
- ukuran dan urutannya. Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin memulai
belajar tepat Pada hari rabu. Dalam hal ini beliau telah meriwayatkan sebuah
hadist sebagai dasarnya, dan ujarnya: Rasulullah saw bersabda: ” tiada lain
segala sesuatu yang di mulai pada hari rabu, kecuali akan menjadi sempurna.”Mengenai
ukuran seberapa panjang panjang yang baru dikaji, menurut keterangan Abu
Hanifah adalah bahwa Syaikh Qadli Imam Umar bin Abu Bakar Az-Zanji berkata:
guru-guru kami berkata: “sebaiknya bagi oarang yang mulai belajar, mengambil
pelajaran baru sepanjang yang kira-kira mampu dihapalkan dengan faham, setelah
diajarkannya dua kali berulang. Kemudian untuk setiap hari, ditambah sedikit
demi sedikit sehingga setelah banyak dan panjang pun masih bisa menghapal
dengan paham pula setelah diulanga dua kali. Sebaiknya dimulai dengan
pelajaran-pelajaran yang dengan mudah telah bisa di fahami. Sebaiknya sang
murid membuat catatan sendiri mengenai pelajaran-pelajaran yang sudah di fahami
hafalannya, untuk kemudian sering diulang-ulang kembali. Karena dengan cara
begitu, akan bermanfaat sekali.
- tawakal. Pelajar harus bertawakal dalam menuntut ilmu. Pelajar
harus bertawakal dalam menuntut ilmu. Jangan goncang karena masalah rizki, dan
hatinya pun jangan terbawa kesana. Abu Hanifah meriwayatkan dari Abdullah Ibnul
Hasan Az-Zubaidiy sahabat Rasulullah saw : “Barangsiapa mempelajari agama
Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya dan memberinya rizki dari jalan
yang tidak di kira sebelumnya.”
- waktu belajar ilmu. Ada dikatakan : “Masa belajar itu sejak manusia
berada di buaian hingga masuk keliang kubur. “Hasan bin Ziyad waktu sudah
berumur 80 tahun baru mulai belajar fiqh, 40 tahun berjalan tidak pernah tidur
di ranjangnya, lalu 40 tahun berikutnya menjadi mufti.
- saling mengasihi dan saling menasehati. Orang alim hendaknya memiliki
rasa kasih sayang, mau memberi nasehat serta jangan berbuat dengki. Dengki itu
tidak akan bermanfaat, justru membahayakan diri sendiri.
- mencari tambahan ilmu pengetahuan. Pelajar hendaknya menggunakan
setiap kesempatan waktunya untuk belajar, terus-menerus sampai memperoleh
keutamaan. Caranya dilakukan bisa dengan selalu menyediakan botol wadah tinta
untuk mencatat segala hal-hal ilmiah yang didapatinya.
- bersikap wara’ ketika menuntut ilmu. Dalam masalah waro’, sebagian
ulama meriwayatkan hadist dari Rasulullah saw. : “Barang siapa tidak berbuat
waro’ waktu belajarnya, maka Allah memberinya ujian dengan salah satu tiga
perkara : dimatikan masih berusia muda, ditempatkan pada perkampungan
orang-orang bodoh atau dijadikan pengabdi sang pejabat”. Jikalau mau membuat
waro’ maka ilmunya lebih bermanfaat, belajarpun mudah dengan banyak-banyak
berfaedah.
- hal-hal yang dapat menguatkan hapalan dan yang melemahkannya.Yang paling
kuat menyebabkan mudah hafal adalah kesungguhan, kontinuitas, mengurangi makan
dan shalat di malam hari. Membaca Al-Qur’an termasuk penyebab hafalan
seseorang, ada dikatakan : “Tiada sesuatu yang lebih bisa menguatkan hafalan
seseorang, kecuali membaca Al-Qur’an dengan menyimak. “Membaca Al-Qur’an yang
dilakukan dengan menyimak itu lebih utama, sebagaimana sabda Nabi saw : “Amalan
umatku yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an dengan menyimak
tulisannya.”Penyebab lupa adalah laku maksiat, banyak dosa, gila dan gelisah
karena urusan dunia. Seperti telah kami kemukakan di atas, bahwa orang yang
berakal itu jangan tergila-gila dengan perkara dunia, karena akan membahayakan
dan sama sekali tidak ada manfaatnya. Gila dunia tak lepas dari akibat
kegelapan hati, sedang gila akhirat tak lepas dari akibat hati bercahaya yang
akan tersakan di kala shalat. Kegilaan dunia akan menghalangi berbuat
kebajikan, tetapi kegilaan akhirat akan membawa kepada amal kebajikan.
- hal-hal yang mempermudah datangnya rijki, hal-hal yang dapat memperpanjang,
dan mengurangi umur.Rasulullah saw bersabda : ‘Hanyalah do’a yang merubah
taqdir, dan hanyalah kebaktian yang bisa menambah usia. Dan sesungguhnya
lantaran perbuatan dosanya, rizki seseorang menjadi tertutup. Terutama berbuat
dusta adalah mendatangkan kefakiran, sebagaimana dalam hadist lain, secara
khusus telah dikemukakan.
No comments:
Post a Comment
silahkan komentar secara bijak dan pastinya sesuai pembahasan.